I. Model Bisnis Layanan Content Provider

Walau sudah dimulai sejak awal 2000, namun bisnis Content Provider/SMS Premium ini baru mulai ramai sekitar 4 tahun terakhir. Pangsa pasar sebenarnya cukup besar. Tahun 2007 diperkirakan pelanggan seluler Indonesia mencapai angka 80 juta. Pada tahun 2010 ini, total pelanggan akan berkisar pada angka 100-120juta. Angka penetrasi seluler sendiri di Indonesia baru 22% dari total populasi. Selain prospek keuntungan yang menguntungkan, secara teknis untuk membuat Layanan Content Provider  itu mudah .

Sebagai contoh, pada final ajang pencarian bakat menyanyi diperkirakan ada sekitar 2,5 juta SMS yang terkirim hanya dalam waktu 3 jam. Jika satu SMS dihargai Rp. 2000 maka pendapatan kotor selama 3 jam itu ada 2,5 juta SMS x Rp. 2000 = Rp. 5 Milyar. Katakanlah bagi hasil antara operator seluler dengan perusahaan Content Provider adalah 50% – 50%, maka perusahaan Content Provider mendapatkan pemasukan sebesar Rp. 2,5 Milyar hanya dalam 3 jam.

Melihat jumlah keuntungan yang sebesar itu dalam waktu singkat, maka bermunculanlah usaha Content Provider dari bebagai kelas dan tingkatan. Namun lama-kelamaan, jumlah perusahaan Content Provider ini makin banyak dan menjadi kurang efektif bagi operator seluler. Kemudian operator seluler mulai selektif dalam menerima kerjasama dari perusahaan Content Provider baik yang baru maupun yang lama yang ingin memperpanjang kontrak kerjasama. Sekarang, rata-rata operator seluler menerapkan kuota pendapatan minimal (biasanya bulanan) untuk setiap ADN yang dimiliki oleh Content Provider. Jika Content Provider tidak mencapai target kuota bulanan dalam satu periode waktu, maka kontrak kerjasamanya akan ditinjau ulang. Content Provider tersebut dapat dicabut haknya untuk tidak dapat memakai ADN sendiri, sebagai gantinya dia akan menggunakan satu ADN khusus bersama-sama dengan Content Provider lain bertrafik rendah. Kemungkinan lain adalah diputusnya kontrak kerjasama antara Operator seluler dengan Content Provider bersangkutan.

II. Revenue Sharing Layanan Content provider

Pembagian hasil keuntungan dari layanan Content Provider ini melibatkan dua pihak yang terlibat pada bisnis yang bersangkutan yaitu antara perusahaan operator seluler dengan perusahaan Content Provider. Besaran persentase bagi hasil tergantung ketentuan dan kesepakatan antara perusahaan operator seluler dengan perusahaan Content Provider. Biasanya operator seluler membuat ketentuan sendiri perihal bagi hasil pendapatan bisnis SMS premium ini yang harus dipenuhi oleh perusahaan Content Provider yang ingin bekerjasama dengan operator seluler yang bersangkutan. Hal ini dikarenakan operator seluler yang mempunyai peranan penting dalam bisnis Content Provider ini karena mereka sendiri yang mempunyai peralatan dan perangkat telekomunikasi untuk berbisnis layanan Content Provider sedangkan perusahaan Content Provider yang memanfaatkan perangkat-perangkat tersebut untuk menjalankan bisnisnya. Besaran ketentuan ini berbeda-beda antara satu operator seluler dengan operator seluler yang lainnya.

Namun, dengan ketentuan yang dibuat oleh operator seluler dengan menerapkan system kuota pendapatan minimal seperti bulanan bagi setiap perusahaan Content Provider maka jika terdapat satu atau lebih perusahaan Content Provider dengan pencapaian kuota pendapatan minimal terpenuhi atau bahkan trafik SMS layanan yang masuk ke operator seluler tersebut tinggi maka secara otomatis bagi hasil yang diberikan kepada perusahaan content provider tersebut akan tinggi persentase bagi hasilnya. Hal ini berarti bagi hasil yang diterapkan kepada setiap perusahaan Content Provider oleh suatu operator seluler akan berbeda-beda besaran presentasenya.

Secara matematis, untuk perhitungan bagi hasil antara operator seluler dengan perusahaan Content Provider dapat dijelaskan seperti berikut ini :

–        Biaya SMS Layanan Content Provider yaitu sebesar Rp. 2.000,-

–        Sebelum persentase bagi hasil diterapkan, dari setiap 1 SMS yang masuk maka akan dikenakan biaya bearer (biaya SMS) dengan besaran sesuai ketentuan operator seluler, misalnya Rp. 350,-

–        Maka sisa yang akan dihitung bagi hasilnya adalah Rp. 2000,- – Rp. 350,- = Rp. 1.650,-

Misalnya kesepakatan antara operator seluler dengan perusahaan content provider mengenai bagi hasil adalah 50%-50%, maka masing-masing keuntungan bagi kedua pihak adalah : 50% X Rp. 1.650,- = Rp. 825,- per SMS yang masuk.

III. Kunci Bisnis Layanan Content Provider

Kunci sukses untuk menjalankan bisnis Layanan Content Provider ini salah satunya adalah mempunyai layanan konten yang beragam serta program-program yang menarik. Perusahaan Content Provider tidak dapat pasif begitu saja, tapi harus aktif dan kreatif. Perusahaan Content Provider harus dapat menciptakan program-program yang mampu menghasilkan trafik SMS yang tinggi yang berarti pemasukan keuntungan bagi perusahaan tersebut. Jadi tim kreatif serta usaha marketing adalah faktor mutlak yang harus ada dan dimilik oleh setiap Perusahaan Content Provider. Dan tentunya biaya marketing bisa berkali lipat lebih besar dari pada biasa operasional teknisnya. Perusahaan Content Provider harus beriklan, mempromosikan programnya dan lain sebagainya. Perusahaan Content Provider besar yang ada biasanya mempunyai kontrak kerja tetap dengan media masa terutama TV. Contohnya Visitel dengan Indosiar, Infokom dengan MNC grup (RCTI, TPI, Global).

IV. Membuat Layanan Content Provider

Untuk membuat Layanan Content Provider, tentu saja perusahaan Content Provider harus mengetahui teknologi atau protokol apa yang digunakan masing-masing operator seluler untuk berkomunikasi dengan computer server perusahaan Content Provider. Umumnya operator seluler mensyaratkan perusahaan Content Provider harus memiliki computer server dengan IP address publik sendiri dan bukan hosting (sewa space server). Server ini fungsinya untuk menampung data SMS yang khusus masuk melalui short number Layanan Content Provider, kemudian memprosesnya (menentukan jawaban/reply atau data apa yang harus dikirim ulang ke nomor Handphone konsumen yang memintanya), dan mengirimkannya kembali ke SMSC operator seluler bersangkutan. Dari tabel, anda bisa lihat teknologi/protokol apa yang digunakan oleh masing-masing operator di Indonesia.

Tabel 1. Protokol Koneksi antara Operator Seluler dengan Perusahaan Content Provider.

  • SMPP (Short Message Peer to Peer)

Merupakan protokol standar dalam industri telekomunikasi yang dikhususkan untuk pertukaran pesan singkat atau SMS antar SMSC. Protokol ini didesain berpasangan dan didasarkan pada konsep pertukaran data dengan cara pengiriman data request/response lewat PDU atau protocol data unit melalui lapisan keempat OSI (Open System Interconnection) menggunakan koneksi TCP atau X.25 SVC3. Untuk efisiensi, data tersebut berupa data biner yang dikodekan. Protokol SMPP yang digunakan operator seluler umumnya adalah versi 3.4. Pada versi ini, pada satu koneksi dapat dilakukan pengiriman maupun penerimaan pesan. Pertukaran data dilakukan secara sinkron maupun asinkron.

  • HTTP/s (HyperText Transfer Protocol / Secure)

Protokol ini sangatlah populer seiring dengan populer-nya Internet dan World Wide Web alias Web. Termasuk juga didalamnya WAP (Wireless Application Protocol). Seperti juga SMPP, HTTP juga merupakan protokol dengan konsep request/response antara client dengan server. Dimana yang bertindak sebagai client misalnya adalah web browser dan sering disebut sebagai user agent. Server, digunakan untuk menyimpan dan memperoses data misalnya gambar atau HTML untuk ditampilkan kepada client. Perbedaannya dengan SMPP adalah pada sifat HTTP yang lebih publik dibandingkan SMPP yang cenderung privat. HTTPS sendiri merupakan versi HTTP dengan koneksi yang aman.Default port yang digunakan untuk mengaksesnya adalah nomor 443 berbeda dengan HTTP yang menggunakan 80 atau 8080.

  • Software yang bisa digunakan

Umumnya para perusahaan Content Provider memodifikasi beberapa aplikasi software open source atau gratisan disesuaikan dengan struktur dan jenis layanan yang akan digunakan. Khusus untuk protocol SMPP saja yang sedikit rumit implementasinya.

Untuk dapat terhubung dengan operator seluler, perusahaan Content Provider akan mendapatkan semacam login dan password yang telah terdaftar dan diberi hak akses dengan level tertentu ke jaringan operator seluler. Berikut adalah beberapa aplikasi/software yang biasa dimodifikasi para Content Provider :

a. Logica (http://opensmpp.logica.com/)

Logica ini dikhususkan untuk protocol SMPP. Ada dua platform bahasa pemrograman yang bisa digunakan yaitu Java dan Visual Basic atau VB. Umumnya, perusahaan Content Provider yang menggunakan system operasi open source lebih memilih Java ketimbang VB. Dengan menggunakan versi Java, modifikasi yang perlu dan dapat dilakukan pun lebih banyak. Selain library yang bisa digunakan bersama dengan aplikasi Java-nya, di website tersebut tersedia pula simulator yang dapat digunakan untuk menguji aplikasi SMPP anda sebelum dihubungkan dengan SMSC yang sesungguhnya. Sebagian besar source yang diberikan di website ini menggunakan Java dan minim dengan user interface berbentuk grafis.

b. Kannel (http://www.kannel.org/)

Kannel juga cukup popular digunakan oleh para perusahaan Content Provider. Selain karena protocol yang didukungnya lebih lengkap (SMPP,HTTP, UCP, EMI), platform bahasa pemrograman yang menggunakan C pun dianggap memperkuat performa Kannel yang lebih cepat. Meski demikian tak semua operator seluler menyarankan untuk menggunakan Kannel ini karena adanya isu stabilitas layanan. Umumnya perusahaan Content Provider dengan kapasitas SMS per detik yang besar memodifikasi aplikasinya dari Kannel ini. Kannel bukan sekedar SMS gateway tapi juga dapat digunakan sebagai WAP Gateway. Penggunaan utama Kannel adalah untuk koneksi HTTP.

c. SMPP Class untuk PHP

(http://www.phpclasses.org/browse/package/1373.html)

Khusus untuk yang lebih suka dengan bahasa pemrograman PHP, bisa mencoba menggunakan class SMPP yang dikhususkan untuk berkomunikasi dengan SMSC operator seluler. Cara menggunakannyapun cukup mudah, namun sayangnya hanya dapat mengirimkan SMS saja. Untuk menerima SMS, pihak pembuatnya tidak menawarkannya secara gratis.

Referensi  :  dari berbagai sumber di internet